Lebaran, dan pandemi
Subuh bersama rintiknya baru saja pergi, kala jemari mulai mengilustrasi, layaknya pena yang dibawa pada sebuah kertas lama, penuh berisi tinta.
3 hari adanya, telah berlalu. Beberapa masih dengan raut muka yang sama, jelas dengan bahagia menyambut hari kemenangan, meski dalam kondisi yang berbeda nian.
Ada pula kesibukan, masih mementingkan pada makna 'baru' dikenakan. Sebelum tiba, maka disiapkanlah untuk sehari datangnya hari kemenangan.
Yang hanya berdiam, merayakan dalam keheningan. Seperti hari-hari biasanya, tak terlalu istimewa. Namun cukup bahagia bila ada kedatangan salam.
Lalu berjejer pula sebagian masih saling bersapa, mengucap maaf meski tak ada lagi jabat seperti biasa.
Kudapati pula pedagang di jalanan. Tak ada hari tanpa mencari nafkah untuk kehidupan. Mungkin, ada yang cukup dirayakan dalam hati, lalu tersimpan.
Dalam sisi yang lain, ada yang masih sangat bersyukur, meski tanpa keluarga, tanpa ramainya suara, tanpa ada yang menyapa, tanpa segala yang kita masih bisa merasakannya. Dan tetap menikmati hari raya
Tapi, tapi mungkinkah ada tanpa yang lebih hampa? Selain telah hilang bulan dengan penuh ampunan, tanpa sempat ibadah dengan penuh kesungguhan?
Cermin diri yang bagaimana-kah telah didapat?
Pada hati, yang hanya bisa menjawab.
Jadi, apakah makna lebaran untukmu, kali ini(?)
Comments
Post a Comment